Desember 01, 2015

Mengubah Misi Hidup dari Main-main Menjadi Bukan Main



                Sebuah kisah yang menggugah jiwa dari seseorang ibadah terkenal bernama Ibrahim bin Adham. Beliau termasuk keturunan orang terpandang. Ayahnya kaya-raya, memiliki banyak pembantu, kendaraan dan kemewahan. Ia terbiasa menghabiskan waktunya hanya untuk bersenang-senang hingga membuat dirinya lupa sebuah hakikat “Untuk apakah manusia diciptakan?”
                Ketika sedang berburu, tak sengaja beliau mendengar suara lantunan firman Allah,
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu`minun: 115)
                Ayat ini betul-betul menyentaknya. Menggugah kesadaran, betapa selama ini ia telah main-main menjalani hidup. Padahal hidup adalah pertaruhan, yang kelak akan dibayar dengan kesengsaraan yang tak terperi, atau kebahagiaan yang abadi.  Sejak itulah ia tersadar, dan itulah awal ia meniti hidup dengan semestinya, hingga sejarah mencatat beliau sebagai seorang yang shalih dan ahli ibadah.
                Rasa-rasanya, ayat ini jarang diperdengarkan di zaman kita ini. Realita membuktikan banyak manusia yang menganggap dan menjadikan hidup ini tak lebih dari sekedar iseng dan main-main. Berpindah dari satu hiburan ke hiburan yang lain, dari satu kesenangan menuju kesenangan yang lain, seakan untuk itulah mereka diciptakan.
                Ayat tersebut menjadi peringatan dan bantahan bagi mereka yang menganggap bahwa mereka diciptakan hanya untuk main-main, anggapan itu sama sekali tidak benar.  Padahal Allah tidak akan membiarkan manusia melenggang begitu saja, bebas berbuat, menghabiskan jatah umur, lalu mati begitu saja. Allah berfirman: “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (QS. Al-Qiyamah: 36)
                Akibat persangkaan yang keliru ini, manusia menjadi liar dalam menjalani hidup. Berjalan tanpa arah, terseok dan tertatih di belantara kesesatan. Akibatnya ia akan mengikuti tiga petunjuk yang senantiasa menyesatkanny. Pertama adalah hawa nafsu, dia selalu berbuat dan berjalan sesuai petunjuk nafsu. Padahal, nafsu cenderung berjalan miring dan bengkok serta menjerumuskannya ke dalam jurang kesesatan. Kedua adalah setan, ia dengan mudah menurut petunjuk jalan yang ditawarkan setan. Padahal Allah telah berfirman tentang setan: “Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)
                Yang ketiga adalah tradisi orang kebanyakan. Yang ia tahu, kebenaran adalah apa yang dilakukan banyak orang. Itulah kiblat dan barometer setiap perbuatannya. Padahal disebutkan dalam Al-Qur`an: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 116)
                Allah menciptakan manusia untuk tugas yang sangat agung agar mereka beribadah kepada-Nya. Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-57) Untuk misi itu, masing-masing diberi tenggat waktu yang sangat terbatas di dunia. Kelak, mereka akan mempertanggungjawabkan segala perilakunya di dunia, adakah mereka gunakan kesempatan sesuai dengan misi yang diemban? Ataukah sebaliknya, lembar catatan dipenuhi dengan aktivitas yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang diperintahkan.
                Di hari di mana mereka dinilai atas kinerja mereka di dunia, tak ada satu episode pun dari kehidupan manusia yang tersembunyi dari Allah. Bahkan semua tercatat dengan detail dan rinci, hingga manusiapun terperanjat dan keheranan, bagaimana ada catatan yang sedetail itu, mereka berkata sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an, “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).” (QS. Al-Kahfi: 49)               Sebelum semua peluang terlewatkan, hendaknya kita bangun motivasi, untuk menjadikan hidup agar lebih berarti.
Suatu kali Fudhail bin Iyadh bertanya kepada seseorang, “Berapakah umur anda sekarang ini?” Orang itu menjawab “60 tahun.” Fudhail berkata, “Kalau begitu, selama 60 tahun itu anda telah berjalan menuju perjumpaan dengan Allah, dan tidak lama lagi perjalanan anda akan sampai.”
                “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un,” tukas orang itu.
                Fudhail kembali bertanya, “Tahukah anda, apa makna kata-kata yang anda ucapkan tadi? Barangsiapa yang mengetahui bahwa dirinya adalah milik Allah, dan kepada-Nya pula akan kembali, maka hendaknya dia menyadari, bahwa dirinya kelak akan menghadap kepada-Nya. Dan barangsiapa menyadari dirinya akan menghadap Allah, hendaknya dia juga tahu bahwa pasti dia akan ditanya. Dimintai pertanggungjawaban atas tindakan yang telah dilakukannya. Maka barangsiapa mengetahui dirinya akan ditanya, hendaknya dia menyiapkan jawaban.”
                Orang itu bertanya, “Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?” Sedangkan kesempatan telah terlewat?”
                Fudhail menjawab, ”Hendaknya anda berusaha memperbagus amal di umur yang masih tersisa, sekaligus memohon ampunan kepada Allah atas kesalahan di masa lampau.”

                Demikianlah. Hidup ini bukanlah hal yang sia-sia, bukan hanya main-main belaka. Ada hari pembalasan, ada hari penghitungan amal dan pertanggungjawaban. Yang menyia-nyiakan hidup, bencanalah yang ia dapatkan. Tapi yang mempersiapkan dan menggunakan untuk kebaikan, dialah yang berhak mendapat keberuntungan. Semoga Allah mengarahkan misi hidup kita dari main-main menjadi bukan main. (sumber: Khutbah Jum`at Ar-Risalah, Abu Umar Abdillah)

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Copyright © Ma'had 'Aly Tahfizhul Qur'an El-Suchary