November 15, 2015

Muhasabah di Akhir Tahun

Bismillahirrohmanirrohim


Orang beriman dalam beberapa kesempatan dan waktu, hendaklah berhenti sejenak untuk menghitung-hitung diri dan amal yang telah diperbuatnya pada hari-hari yang lalu, kemudian memperkuat keinginan untuk memperbaiki dan menambah amal kebaikannya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:  “Hai orang-orang beriman, takutlah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok dan takutlah kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr: 18).



Sesungguhnya hari-hari yang berlalu, bulan-bulan yang datang silih berganti, dan tahun-tahun berakhir kemudian datang tahun yang baru, semuanya berjalan dan berlalu dengan maksud dan mengandung  tujuan yang jelas dari Allah. Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Ali-Imran: 190).

Hidup manusia mempunyai tahapan dan dilalui setapak demi setapak namun pasti, dan orang-orang di dunia ini akan  berangkatan menuju akhirat, dan semua akan mendekat kepada kematian. Orang yang beruntung adalah yang selalu menghitung dirinya, maka beruntunglah mereka yang selalu memperbaiki diri dan istiqomah, memohon ampun kepada  Allah subhanahu wa ta'ala dari segala dosa dan salah.
Seseorang tidak akan mencapai tingkat derajat taqwa sehingga ia menghisab dirinya atas apa yang telah diperbuatnya, tekad apa yang harus dilakukannya  dalam semua hal, lalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta'ala dari dosa, dan bertobat dari kekurangannya dalam melakukan ibadah, karena muhasabah merupakan ciri bagi seorang muslim yang cerdas. Dari Syaddad bin Aus radiallahu 'anhu Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam  bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengintrospeksi diri dan beramal untuk kematiannya.  Orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan saja kepada Allah subhanahu wa ta'ala” [HR. Tirmidzi, shahih]. 

Sabda Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam ini menegaskan bahwa seorang yang hanya berangan-angan saja untuk melakukan amal sholeh dan tetap mengikuti keinginan nafsunya adalah mereka yang lemah, lemah karena dikalahkan oleh syahwat. Memang pada dasarnya setiap orang akan dan pernah melakukan kesalahan, berbuat dosa dan maksiat, namun dengan demikian kesadaran dari kekhilafan itulah yang akan membuat seseorang menjadi seorang mukmin yang baik tatkala ia melakukan taubat dengan sebenar-benarnya. 

Hendaklah  seseorang segera bertobat dari kesalahannya, meminta ampunan dan berusaha lari meninggalkan dosa dan siksa akhirat ketika masih ada kesempatan ketika hidup di dunia, karena jika tidak berusaha untuk lari dari siksa semenjak di dunia, maka ia tidak akan dapat lagi lari dari siksa di akhirat kelak, tak akan ada peluang dan jalan lagi  untuk lari dari azab Allah subhanahu wa ta'ala,  setiap anggota badannya akan dibelenggu dan bersaksi kepada Allah subhanahu wa ta'ala. 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan" (QS. Fushilat: 20-21).

Bahkan  bumi pun akan menceritakan setiap kejadian yang ada di dalamnya! Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radiallahu 'anhu bahwa Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam suatu ketika membaca firman Allah subhanahu wa ta'ala:
يَوْمَئِذٍ تُحَدّثُ أَخْبَارَهَا
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya” (QS. Surat Al-Zalzalah: 4).

Para sahabatnya bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menceritakan setiap kejadiannya?” Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam menjawab:
أَنْ تَشْهَدَ علَى كُلِّ عَبْدٍ أَو أَمَةٍ بِما عَمِلَ علَى ظَهْرِها، تَقولُ: عَمِلْتَ كَذا وكَذا، فِي يَوْمِ كَذا وكَذا
“Akan bersaksi setiap hamba atau setiap umat terhadap apa yang telah dilakukannya di atas punggungnya, lalu berkata: ia melakukan ini dan itu pada hari ini dan hari itu” [HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban, hadits hasan gharib].

Khalifah Umar bin Al-Khattab radiallahu 'anhu pernah mengucapkan kalimat yang sangat populer untuk menjadi renungan bersama: “Introspeksilah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang, dan bersiaplah untuk dihadapkan kepada Allah sallallahu wa 'alaihi wa sallam pada hari penghadapan yang besar”. Sebagaimana Allah k juga telah berfirman: “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)” (QS. Al-Haaqah: 18).
Minimal ada tiga hal yang perlu menjadi renungan kita. Agar hari-hari yang telah berlalu dan hari-hari yang akan datang pada tahun yang baru akan membuat kita sadar bahwa sesungguhnya setiap jiwa tidak dibiarkan saja hidup semaunya, hidup yang dilalui akan dipintai pertanggungan jawab  di akhirat kelak.

Hal pertama, yang harus menjadi perhatian dan dihitung oleh setiap orang beriman dari dirinya adalah: Apa yang telah ia lakukan untuk dirinya dari amal shaleh pada tahun ini? Apakah ia termasuk orang yang dapat berbahagia, karena telah mengisinya dengan ketaatan di setiap hari-harinya, bulan-bulannya, pada setiap momen ibadah pada tahun lalu dari ibadah shalat, ibadah puasa, menunaikan kewajiban zakat, ibadah haji dan qurbannya dengan sungguh-sungguh dan penuh ketaqwaan? Atau bersedih dan menangislah bagi yang teramat banyak melalaikan kenikmatan tahun yang berlalu ini dengan kemaksiatan, kedurhakaan, bahkan tidak mengindahkan syariat-syariat Allah subhanahu wa ta'ala dengan penuh rasa takut kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams: 7-10).

Hal kedua perlu menjadi bahan renungan kita, adalah keluarga dan rumah kita. Setiap orang hendaklah bertanya kepada dirinya masing-masing? Apakah yang telah ia berikan untuk keluarganya? Sudahkah cahaya iman ia bawa masuk ke dalam rumahnya dengan bersama-sama keluarga menuju ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala? Karena hendaklah setiap rumah seorang muslim menjadi titik tolak kebaikan bagi dirinya dan keluarganya. Jika rumahnya hampa dari siraman ayat-ayat Al-Quran, bahkan tidak pernah diperdengarkan Al-Quran selama satu tahun yang lalu, maka sangat wajarlah jikalau merasakan rumah itu laksana kuburan yang tidak ada ketenangan di dalamnya, bahkan dihantui oleh rasa takut dan was-was. Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam bersabda: “Rumah yang dibacakan di dalamnya Al-Quran akan banyak kebaikannya, diluaskan bagi penghuninya, dihadiri oleh malaikat dan setan pergi darinya. Dan rumah yang tidak dibacakan di dalamnya Al-Quran, maka akan merasa sempitlah penghuninya, sedikit kebaikan di dalamnya, malaikat pergi darinya dan dihuni oleh setan” [HR. Abdul Razak dan Dailami, shahih].

Hal ketiga yang perlu kita hitung-hitung dan introspeksi adalah hak tetangga dan masyarakat dan kewajiban kita kepada mereka. Apakah kita  sudah menyampaikan amanat yang diembankan kepada kita dengan baik, ataukah  kita khianati amanat tersebut? Sudahkah hak-hak bertetangga dan bermasyarakat kita tunaikan dengan baik? Jika belum mohonlah ampunan kepada Allah subhanahu wa ta'ala atas setiap kelemahan kita dalam menjalankan kewajiban terhadap sesama hamba beriman. Sabda Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam berikut cukuplah menjadi acuan kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dari Abu Hurairah radiallahu 'anhu Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam bersabda: “Hak muslim atas muslim yang lain ada enam”. Sahabat bertanya, “Apakah itu Ya Rasulallah?” Rasul sallallahu wa 'alaihi wa sallam menjawab: “Apabila bertemu ucapkanlah salam, apabila ia mengundangmu maka penuhilah, apabila meminta nasehat kepadamu, nasehatilah, apabila sakit jenguklah dan apabila meninggal dunia hantarlah jenazahnya” [HR. Muslim].

 Semoga ini menjadi sedikit renungan kita di akhir tahun untuk menapaki tahun baru dengan lebih baik. Menanamkan keinginan kuat dalam dada untuk menjadi seorang hamba yang taat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, dapat membawa dan memberikan kebaikan bagi diri, keluarga dan masyarakat. Amiin ya rabbal aalamiin.
  (Oleh H. Zulhamdi M. Saad, Lc.)

JALAN MENUJU QANA'AH


Diantara sebab yang membuat hidup tidak tentram adalah terpedayanya diri oleh kecintaan kepada harta dan dunia. Orang yang diperdaya oleh harta akan senantiasa merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya. Akibatnya, apa yang ada dalam dirinya lahir sikap-sikap yang mencerminkan bahwa ia sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala, Sang Maha Pemberi Rezeki itu sendiri. Ia merasa justru kenikmatan yang dia peroleh adalah murni semata hasil keringatnya, tak ada kesertaan Allah subhanahu wa ta'ala. Orang-orang yang terlalu mencintai kenikmatan dunia akan selalu terdorong unruk memburu segala keinginannya meski harus menggunakan segala cara: licik, bohong, mengurangi timbangan dan sebagainya. Ia juga tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta hanyalah ujian. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Maka apabila manusia ditimpa bahaya dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan nikamat Kami kepadanya dia berkata, "Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku." Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Qs, Az-Zumar:49)


Ayat tersebut mengindikasikan adanya orang-orang yang tidak tepat dalam menyikapi harta dan dunia yang diberikan kepadanya. Ia menyangka, ketentraman hidup ditentukan oe\leh banyak dan tidaknya harta yang dimiliki, besar kecilnya tempat tinggal, tinggi rendahnya kedudukan dan pangka yang disandangnya. Padahal ketentraman hidup hanya dapat diraih melalui penyikapan yang tepat terhadap harta dan dunia, sekecil dan sebesar apapun yang dimilikinya, sikap ini dikenal dengan Qona'ah, yang berarti merasa cukup dan puas atas harta dan rezeki yang dimilikinya.


Qona'ah dan syukur adalah dua sikap yang tidak mungkin terpisahkan, orang yang qona'ah hidupnya senantiasa bersyukur, makan dengan apa adanya akan terasa nikmat tiada terhingga jika dilandasi dengan qona'ah dan syukur. Sebab pada saat itu ia tidak pernah memikirkan apa yang tidak ada dihadapannya. Justru ia akan berusaha membagi kenikmatan yang diterimanya itu dengan orang lain.


Meski demikian, orang-orang yang memilliki sikap qona'ah tidak berarti fatalis dan menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang -orang yang hidup qona'ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun bukan untuk menumpuk kekayaan. Ia meyakini kekayaan dunia yang dimilikinya adalah titipan Allah subhanahu wa ta'ala. Dengan demikian, apapun yang dimilikinya tak pernah melalaikannya dari mengingat Sang Maha Pemberi Rezeki. Sebaliknya, kenikmatan yang ia dapatkan justru menambah sikap qona'ahnya dan mempertebal rasa syukurnya.


Ketika berusaha mencari dunia, orang-orang yang qona'ah meniatkannya sebagai ibadah yang mulia di hadapan Allah yang Maha Kuasa, sehingga ia tidak berani berbuat curang, menipu dan dzalim. Ia yakin tanpa menghalalkan segala cara apapun, ia tetap mendapatkan rezeki yang dijanjikan Allah subhanu wa ta'ala. Ia menyadari akhir rezeki yang dicarinya tidak akan melebihi tiga hal; menjadi kotoran, barang usang atau bernilai pahala disisi Allah subhanahu wa ta'ala. Karena ia pun lebih mementingkan seruan Rabbnya; "Hai orang-orang beriman, apabila diseru kepada kamu sekalian untuk menunaikan shalat jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu sekalian mengetahui." (Qs. Al-Jum'ah:9)


Namun jika sampai pada keadaan demikian, ia tidak lantas terbius pada kenikmatan beribadah kepada Allah seraya melupakan dunia, ia menyadari masih ada aturan yang mewajibkannya untuk beraktivitas kembali. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS. Al-Jum'ah: 10)


Niat yang lahir dari hati orang-orang yang qana'ah ketika melakukan aktivitas pencarian dunia bukan didasarkan pada penumpukan kekayaan untuk ia nikmati sendiri. Namun benar-benar didasarkan pada ibadah. Orang-orang akan mencari harya dan dunia untuk membekali dirinya agar lebih kuat dalam beribadah. Ia akan berpikir, Allah subhanahu wa ta'ala lebih mencintai mukmin yang kuat dibanding mukmin yang lemah

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Copyright © Ma'had 'Aly Tahfizhul Qur'an El-Suchary