Desember 21, 2015

PERJALANAN MENUJU AKHIRAT



Disadari ataupun tidak, pada hakikatnya kehidupan dunia yang sementara ini merupakan fase perjalanan menuju ke negeri akhirat yang kekal abadi. Setiap kita pasti berjalan menuju kematian, semakin umur kita bertambah maka semakin dekat pula dengan kematian. Bagi orang yang menyadari hal ini maka ketika hidup dunia ini ia akan berusaha menggunakan kesempatan untuk mengumpulkan bekal sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya untuk mempersiapan hari kematiannya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah menceritakan kisah yang patut kita renungkan tentang bagaimana perjalanan ruh menuju negeri akhirat.
Perjalanan orang-orang mukmin menuju akhirat
Imam Ahmad v meriwayatkan dalam sanadnya, dari Barro’ bin ‘Azib  yang berkata,” Rasulullah n bersabda,”Bila seorang hamba mukmin berada di ujung dunia menuju gerbang akhirat, malaikat dari langit turun kepadanya. Wajahnya putih bersih, secerah mentari. Mereka membawa kafan dan balsam yang berasal dari surga. Mereka duduk sangat dekat dengan hamba itu, dan mengucapkan salam. Lalu duduk di atas kepalanya dan berkata,”Wahai jiwa yang suci, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah.” Maka ruhnya pun keluar sebagaimana aliran air yang deras. Lalu malaikat itu mengambil ruhnya.

KEUTAMAAN SHALAT DALAM ISLAM




1. Shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Allah l berfirman: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabuut: 45).
2. Shalat merupakan amalan paling baik setelah dua kalimat syahadat. Hal itu di dasarkan pada hadits Abdullah bin Mas’ud z, dia bercerita: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah n, “Apakah amalan yang paling baik itu?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Lalu kutanyakan lagi, lanjut Ibnu Mas’ud,” kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.“ Dia bercerita lagi, selanjutnya kutanyakan, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “jihad di jalan Allah.” [Muttafaq ‘alaih]

Desember 01, 2015

Mengubah Misi Hidup dari Main-main Menjadi Bukan Main



                Sebuah kisah yang menggugah jiwa dari seseorang ibadah terkenal bernama Ibrahim bin Adham. Beliau termasuk keturunan orang terpandang. Ayahnya kaya-raya, memiliki banyak pembantu, kendaraan dan kemewahan. Ia terbiasa menghabiskan waktunya hanya untuk bersenang-senang hingga membuat dirinya lupa sebuah hakikat “Untuk apakah manusia diciptakan?”
                Ketika sedang berburu, tak sengaja beliau mendengar suara lantunan firman Allah,
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu`minun: 115)
                Ayat ini betul-betul menyentaknya. Menggugah kesadaran, betapa selama ini ia telah main-main menjalani hidup. Padahal hidup adalah pertaruhan, yang kelak akan dibayar dengan kesengsaraan yang tak terperi, atau kebahagiaan yang abadi.  Sejak itulah ia tersadar, dan itulah awal ia meniti hidup dengan semestinya, hingga sejarah mencatat beliau sebagai seorang yang shalih dan ahli ibadah.
                Rasa-rasanya, ayat ini jarang diperdengarkan di zaman kita ini. Realita membuktikan banyak manusia yang menganggap dan menjadikan hidup ini tak lebih dari sekedar iseng dan main-main. Berpindah dari satu hiburan ke hiburan yang lain, dari satu kesenangan menuju kesenangan yang lain, seakan untuk itulah mereka diciptakan.
                Ayat tersebut menjadi peringatan dan bantahan bagi mereka yang menganggap bahwa mereka diciptakan hanya untuk main-main, anggapan itu sama sekali tidak benar.  Padahal Allah tidak akan membiarkan manusia melenggang begitu saja, bebas berbuat, menghabiskan jatah umur, lalu mati begitu saja. Allah berfirman: “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (QS. Al-Qiyamah: 36)
                Akibat persangkaan yang keliru ini, manusia menjadi liar dalam menjalani hidup. Berjalan tanpa arah, terseok dan tertatih di belantara kesesatan. Akibatnya ia akan mengikuti tiga petunjuk yang senantiasa menyesatkanny. Pertama adalah hawa nafsu, dia selalu berbuat dan berjalan sesuai petunjuk nafsu. Padahal, nafsu cenderung berjalan miring dan bengkok serta menjerumuskannya ke dalam jurang kesesatan. Kedua adalah setan, ia dengan mudah menurut petunjuk jalan yang ditawarkan setan. Padahal Allah telah berfirman tentang setan: “Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)
                Yang ketiga adalah tradisi orang kebanyakan. Yang ia tahu, kebenaran adalah apa yang dilakukan banyak orang. Itulah kiblat dan barometer setiap perbuatannya. Padahal disebutkan dalam Al-Qur`an: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 116)
                Allah menciptakan manusia untuk tugas yang sangat agung agar mereka beribadah kepada-Nya. Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-57) Untuk misi itu, masing-masing diberi tenggat waktu yang sangat terbatas di dunia. Kelak, mereka akan mempertanggungjawabkan segala perilakunya di dunia, adakah mereka gunakan kesempatan sesuai dengan misi yang diemban? Ataukah sebaliknya, lembar catatan dipenuhi dengan aktivitas yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang diperintahkan.
                Di hari di mana mereka dinilai atas kinerja mereka di dunia, tak ada satu episode pun dari kehidupan manusia yang tersembunyi dari Allah. Bahkan semua tercatat dengan detail dan rinci, hingga manusiapun terperanjat dan keheranan, bagaimana ada catatan yang sedetail itu, mereka berkata sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an, “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).” (QS. Al-Kahfi: 49)               Sebelum semua peluang terlewatkan, hendaknya kita bangun motivasi, untuk menjadikan hidup agar lebih berarti.
Suatu kali Fudhail bin Iyadh bertanya kepada seseorang, “Berapakah umur anda sekarang ini?” Orang itu menjawab “60 tahun.” Fudhail berkata, “Kalau begitu, selama 60 tahun itu anda telah berjalan menuju perjumpaan dengan Allah, dan tidak lama lagi perjalanan anda akan sampai.”
                “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un,” tukas orang itu.
                Fudhail kembali bertanya, “Tahukah anda, apa makna kata-kata yang anda ucapkan tadi? Barangsiapa yang mengetahui bahwa dirinya adalah milik Allah, dan kepada-Nya pula akan kembali, maka hendaknya dia menyadari, bahwa dirinya kelak akan menghadap kepada-Nya. Dan barangsiapa menyadari dirinya akan menghadap Allah, hendaknya dia juga tahu bahwa pasti dia akan ditanya. Dimintai pertanggungjawaban atas tindakan yang telah dilakukannya. Maka barangsiapa mengetahui dirinya akan ditanya, hendaknya dia menyiapkan jawaban.”
                Orang itu bertanya, “Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?” Sedangkan kesempatan telah terlewat?”
                Fudhail menjawab, ”Hendaknya anda berusaha memperbagus amal di umur yang masih tersisa, sekaligus memohon ampunan kepada Allah atas kesalahan di masa lampau.”

                Demikianlah. Hidup ini bukanlah hal yang sia-sia, bukan hanya main-main belaka. Ada hari pembalasan, ada hari penghitungan amal dan pertanggungjawaban. Yang menyia-nyiakan hidup, bencanalah yang ia dapatkan. Tapi yang mempersiapkan dan menggunakan untuk kebaikan, dialah yang berhak mendapat keberuntungan. Semoga Allah mengarahkan misi hidup kita dari main-main menjadi bukan main. (sumber: Khutbah Jum`at Ar-Risalah, Abu Umar Abdillah)

November 15, 2015

Muhasabah di Akhir Tahun

Bismillahirrohmanirrohim


Orang beriman dalam beberapa kesempatan dan waktu, hendaklah berhenti sejenak untuk menghitung-hitung diri dan amal yang telah diperbuatnya pada hari-hari yang lalu, kemudian memperkuat keinginan untuk memperbaiki dan menambah amal kebaikannya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:  “Hai orang-orang beriman, takutlah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok dan takutlah kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr: 18).



Sesungguhnya hari-hari yang berlalu, bulan-bulan yang datang silih berganti, dan tahun-tahun berakhir kemudian datang tahun yang baru, semuanya berjalan dan berlalu dengan maksud dan mengandung  tujuan yang jelas dari Allah. Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Ali-Imran: 190).

Hidup manusia mempunyai tahapan dan dilalui setapak demi setapak namun pasti, dan orang-orang di dunia ini akan  berangkatan menuju akhirat, dan semua akan mendekat kepada kematian. Orang yang beruntung adalah yang selalu menghitung dirinya, maka beruntunglah mereka yang selalu memperbaiki diri dan istiqomah, memohon ampun kepada  Allah subhanahu wa ta'ala dari segala dosa dan salah.
Seseorang tidak akan mencapai tingkat derajat taqwa sehingga ia menghisab dirinya atas apa yang telah diperbuatnya, tekad apa yang harus dilakukannya  dalam semua hal, lalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta'ala dari dosa, dan bertobat dari kekurangannya dalam melakukan ibadah, karena muhasabah merupakan ciri bagi seorang muslim yang cerdas. Dari Syaddad bin Aus radiallahu 'anhu Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam  bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengintrospeksi diri dan beramal untuk kematiannya.  Orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan saja kepada Allah subhanahu wa ta'ala” [HR. Tirmidzi, shahih]. 

Sabda Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam ini menegaskan bahwa seorang yang hanya berangan-angan saja untuk melakukan amal sholeh dan tetap mengikuti keinginan nafsunya adalah mereka yang lemah, lemah karena dikalahkan oleh syahwat. Memang pada dasarnya setiap orang akan dan pernah melakukan kesalahan, berbuat dosa dan maksiat, namun dengan demikian kesadaran dari kekhilafan itulah yang akan membuat seseorang menjadi seorang mukmin yang baik tatkala ia melakukan taubat dengan sebenar-benarnya. 

Hendaklah  seseorang segera bertobat dari kesalahannya, meminta ampunan dan berusaha lari meninggalkan dosa dan siksa akhirat ketika masih ada kesempatan ketika hidup di dunia, karena jika tidak berusaha untuk lari dari siksa semenjak di dunia, maka ia tidak akan dapat lagi lari dari siksa di akhirat kelak, tak akan ada peluang dan jalan lagi  untuk lari dari azab Allah subhanahu wa ta'ala,  setiap anggota badannya akan dibelenggu dan bersaksi kepada Allah subhanahu wa ta'ala. 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan" (QS. Fushilat: 20-21).

Bahkan  bumi pun akan menceritakan setiap kejadian yang ada di dalamnya! Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radiallahu 'anhu bahwa Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam suatu ketika membaca firman Allah subhanahu wa ta'ala:
يَوْمَئِذٍ تُحَدّثُ أَخْبَارَهَا
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya” (QS. Surat Al-Zalzalah: 4).

Para sahabatnya bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menceritakan setiap kejadiannya?” Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam menjawab:
أَنْ تَشْهَدَ علَى كُلِّ عَبْدٍ أَو أَمَةٍ بِما عَمِلَ علَى ظَهْرِها، تَقولُ: عَمِلْتَ كَذا وكَذا، فِي يَوْمِ كَذا وكَذا
“Akan bersaksi setiap hamba atau setiap umat terhadap apa yang telah dilakukannya di atas punggungnya, lalu berkata: ia melakukan ini dan itu pada hari ini dan hari itu” [HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban, hadits hasan gharib].

Khalifah Umar bin Al-Khattab radiallahu 'anhu pernah mengucapkan kalimat yang sangat populer untuk menjadi renungan bersama: “Introspeksilah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang, dan bersiaplah untuk dihadapkan kepada Allah sallallahu wa 'alaihi wa sallam pada hari penghadapan yang besar”. Sebagaimana Allah k juga telah berfirman: “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)” (QS. Al-Haaqah: 18).
Minimal ada tiga hal yang perlu menjadi renungan kita. Agar hari-hari yang telah berlalu dan hari-hari yang akan datang pada tahun yang baru akan membuat kita sadar bahwa sesungguhnya setiap jiwa tidak dibiarkan saja hidup semaunya, hidup yang dilalui akan dipintai pertanggungan jawab  di akhirat kelak.

Hal pertama, yang harus menjadi perhatian dan dihitung oleh setiap orang beriman dari dirinya adalah: Apa yang telah ia lakukan untuk dirinya dari amal shaleh pada tahun ini? Apakah ia termasuk orang yang dapat berbahagia, karena telah mengisinya dengan ketaatan di setiap hari-harinya, bulan-bulannya, pada setiap momen ibadah pada tahun lalu dari ibadah shalat, ibadah puasa, menunaikan kewajiban zakat, ibadah haji dan qurbannya dengan sungguh-sungguh dan penuh ketaqwaan? Atau bersedih dan menangislah bagi yang teramat banyak melalaikan kenikmatan tahun yang berlalu ini dengan kemaksiatan, kedurhakaan, bahkan tidak mengindahkan syariat-syariat Allah subhanahu wa ta'ala dengan penuh rasa takut kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams: 7-10).

Hal kedua perlu menjadi bahan renungan kita, adalah keluarga dan rumah kita. Setiap orang hendaklah bertanya kepada dirinya masing-masing? Apakah yang telah ia berikan untuk keluarganya? Sudahkah cahaya iman ia bawa masuk ke dalam rumahnya dengan bersama-sama keluarga menuju ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala? Karena hendaklah setiap rumah seorang muslim menjadi titik tolak kebaikan bagi dirinya dan keluarganya. Jika rumahnya hampa dari siraman ayat-ayat Al-Quran, bahkan tidak pernah diperdengarkan Al-Quran selama satu tahun yang lalu, maka sangat wajarlah jikalau merasakan rumah itu laksana kuburan yang tidak ada ketenangan di dalamnya, bahkan dihantui oleh rasa takut dan was-was. Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam bersabda: “Rumah yang dibacakan di dalamnya Al-Quran akan banyak kebaikannya, diluaskan bagi penghuninya, dihadiri oleh malaikat dan setan pergi darinya. Dan rumah yang tidak dibacakan di dalamnya Al-Quran, maka akan merasa sempitlah penghuninya, sedikit kebaikan di dalamnya, malaikat pergi darinya dan dihuni oleh setan” [HR. Abdul Razak dan Dailami, shahih].

Hal ketiga yang perlu kita hitung-hitung dan introspeksi adalah hak tetangga dan masyarakat dan kewajiban kita kepada mereka. Apakah kita  sudah menyampaikan amanat yang diembankan kepada kita dengan baik, ataukah  kita khianati amanat tersebut? Sudahkah hak-hak bertetangga dan bermasyarakat kita tunaikan dengan baik? Jika belum mohonlah ampunan kepada Allah subhanahu wa ta'ala atas setiap kelemahan kita dalam menjalankan kewajiban terhadap sesama hamba beriman. Sabda Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam berikut cukuplah menjadi acuan kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dari Abu Hurairah radiallahu 'anhu Rasulullah sallallahu wa 'alaihi wa sallam bersabda: “Hak muslim atas muslim yang lain ada enam”. Sahabat bertanya, “Apakah itu Ya Rasulallah?” Rasul sallallahu wa 'alaihi wa sallam menjawab: “Apabila bertemu ucapkanlah salam, apabila ia mengundangmu maka penuhilah, apabila meminta nasehat kepadamu, nasehatilah, apabila sakit jenguklah dan apabila meninggal dunia hantarlah jenazahnya” [HR. Muslim].

 Semoga ini menjadi sedikit renungan kita di akhir tahun untuk menapaki tahun baru dengan lebih baik. Menanamkan keinginan kuat dalam dada untuk menjadi seorang hamba yang taat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, dapat membawa dan memberikan kebaikan bagi diri, keluarga dan masyarakat. Amiin ya rabbal aalamiin.
  (Oleh H. Zulhamdi M. Saad, Lc.)

JALAN MENUJU QANA'AH


Diantara sebab yang membuat hidup tidak tentram adalah terpedayanya diri oleh kecintaan kepada harta dan dunia. Orang yang diperdaya oleh harta akan senantiasa merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya. Akibatnya, apa yang ada dalam dirinya lahir sikap-sikap yang mencerminkan bahwa ia sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala, Sang Maha Pemberi Rezeki itu sendiri. Ia merasa justru kenikmatan yang dia peroleh adalah murni semata hasil keringatnya, tak ada kesertaan Allah subhanahu wa ta'ala. Orang-orang yang terlalu mencintai kenikmatan dunia akan selalu terdorong unruk memburu segala keinginannya meski harus menggunakan segala cara: licik, bohong, mengurangi timbangan dan sebagainya. Ia juga tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta hanyalah ujian. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Maka apabila manusia ditimpa bahaya dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan nikamat Kami kepadanya dia berkata, "Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku." Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Qs, Az-Zumar:49)


Ayat tersebut mengindikasikan adanya orang-orang yang tidak tepat dalam menyikapi harta dan dunia yang diberikan kepadanya. Ia menyangka, ketentraman hidup ditentukan oe\leh banyak dan tidaknya harta yang dimiliki, besar kecilnya tempat tinggal, tinggi rendahnya kedudukan dan pangka yang disandangnya. Padahal ketentraman hidup hanya dapat diraih melalui penyikapan yang tepat terhadap harta dan dunia, sekecil dan sebesar apapun yang dimilikinya, sikap ini dikenal dengan Qona'ah, yang berarti merasa cukup dan puas atas harta dan rezeki yang dimilikinya.


Qona'ah dan syukur adalah dua sikap yang tidak mungkin terpisahkan, orang yang qona'ah hidupnya senantiasa bersyukur, makan dengan apa adanya akan terasa nikmat tiada terhingga jika dilandasi dengan qona'ah dan syukur. Sebab pada saat itu ia tidak pernah memikirkan apa yang tidak ada dihadapannya. Justru ia akan berusaha membagi kenikmatan yang diterimanya itu dengan orang lain.


Meski demikian, orang-orang yang memilliki sikap qona'ah tidak berarti fatalis dan menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang -orang yang hidup qona'ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun bukan untuk menumpuk kekayaan. Ia meyakini kekayaan dunia yang dimilikinya adalah titipan Allah subhanahu wa ta'ala. Dengan demikian, apapun yang dimilikinya tak pernah melalaikannya dari mengingat Sang Maha Pemberi Rezeki. Sebaliknya, kenikmatan yang ia dapatkan justru menambah sikap qona'ahnya dan mempertebal rasa syukurnya.


Ketika berusaha mencari dunia, orang-orang yang qona'ah meniatkannya sebagai ibadah yang mulia di hadapan Allah yang Maha Kuasa, sehingga ia tidak berani berbuat curang, menipu dan dzalim. Ia yakin tanpa menghalalkan segala cara apapun, ia tetap mendapatkan rezeki yang dijanjikan Allah subhanu wa ta'ala. Ia menyadari akhir rezeki yang dicarinya tidak akan melebihi tiga hal; menjadi kotoran, barang usang atau bernilai pahala disisi Allah subhanahu wa ta'ala. Karena ia pun lebih mementingkan seruan Rabbnya; "Hai orang-orang beriman, apabila diseru kepada kamu sekalian untuk menunaikan shalat jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu sekalian mengetahui." (Qs. Al-Jum'ah:9)


Namun jika sampai pada keadaan demikian, ia tidak lantas terbius pada kenikmatan beribadah kepada Allah seraya melupakan dunia, ia menyadari masih ada aturan yang mewajibkannya untuk beraktivitas kembali. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS. Al-Jum'ah: 10)


Niat yang lahir dari hati orang-orang yang qana'ah ketika melakukan aktivitas pencarian dunia bukan didasarkan pada penumpukan kekayaan untuk ia nikmati sendiri. Namun benar-benar didasarkan pada ibadah. Orang-orang akan mencari harya dan dunia untuk membekali dirinya agar lebih kuat dalam beribadah. Ia akan berpikir, Allah subhanahu wa ta'ala lebih mencintai mukmin yang kuat dibanding mukmin yang lemah

Agustus 18, 2015

Tiga Jalan Menuju Surga




Dari Abdullah bin Salam ra, Rasulullah SAW.bersabda: “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makan (kepada orang yang membutuhkannya), dan shalatlah kalian di saat manusia tertidur dikegelapan malam, maka kalian akan masuk surga dengan selamat”. (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Darimi)

Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW menginformasikan kepada kita tiga jalan menuju surganya Allah SWT dengan selamat. Ketiga hal tersebut adalah :

1. Menyebarkan Salam

Memberikan atau mengucapkan salam merupakan salah satu syi’ar Islam dan juga sunnah Rasulullah SAW. Bahkan dalam salah satu haditsnya beliau menggambarkan bahwa salam merupakan cara paling efektif untuk menumbuhkan rasa ukhuwwah Islamiyah dan cinta sesama muslim. Dan ternyata di samping segala keutamaannya, menyebarkan salam juga dapat mengantarkan seseorang pada pintu surga yang senantiasa menjadi idaman setiap orang yang beriman. Mengucapkan salam juga dapat menghilangkan rasa ‘ketidaksukaan’ seorang muslim terhadap muslim lainnya. Mengucapkan salam juga bisa mengobati rasa rindu seorang muslim terhadap muslim yang lainnya. Mengucapkan salam juga dapat mengantarkan sebuah masyarakat menjadi masyarakat Islami, mengantarkan sebuah bangsa menjadi bangsa yang madani. Karena salam juga berarti perdamaian dan kesejahteraan. 

2. Memberi Makan kepada yang Membutuhkan

Memberikan makan merupakan gambaran yang baik tentang ciri masyarakat yang islami. Di mana setiap anggota masyarakat saling memiliki rasa keterikatan dan persaudaraan, sehingga setiap orang tidak rela manakala ada saudara atautetangganya kelaparan dan kesusahan. Memberi makan ini tidak harus berupa makanan.Namun dapat juga berupa bantuan lain berupa pertolongan, bantuan keuangan, dsb. Memberi makan ini juga implikasi dari sunnah Rasulullah SAW. yang lainnya yaitu “tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.” Dan insya Allah orang yang suka memberi, Allah akan gantikan dengan yang lebih baik lagi, baik di dunia maupun di akhirat kelak. 

3. Shalat di Keheningan Malam

Hal ketiga yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. agar seseorang dapat mencapai gerbang surga dengan selamat adalah shalat dikeheningan malam. Shalat dikeheningan malam, terutama di saat-saat manusia sedang terlelap dengan mimpinya, merupakan gambaran nyata kecintaan seorang hamba terhadap Allah SWT. Saat-saat tengah malam merupakan saat-saat yang paling berat untuk meninggalkan tempat tidur menuju tempat wudhu guna mensucikan jiwa menghadap Allah SWT. Dan saat-saat seperti inilah waktu yang paling efektif untuk mengisi ruhiyyah dengan pancaran keimanan dari Allah SWT. Bahkan begitu berharganya waktu seperti ini, salah seorang ulama mengistilahkannya dengan Ad-Daqoiq al-Gholiyah ( detik-detik yang sangat mahal ). Karena di saat inilah, Allah membuka lebar-lebar para hamba yang memohon kepada-Nya. Wallahu a’lam bis Showab 

[djulkarnain@davids.co.id ] 

Maret 15, 2015

Kunjungan Ust. Farid Ahmad Okbah, M.A Ke Ma'had El-Suchary


Pada hari Jum’at lalu tepatnya tanggal 13 Maret 2015, ustadz pakar Syiah dan Da'i Nasional ini berkesempatan mengunjungi PPTQ EL-SUCHARY, beliau mengisi kajian bertemakan “Mencetak Generasi Rabbani”, santri dan mahasantri sangat antusias mengikuti kajian tersebut. Beliau berpesan agar totalitas dalam menuntut ilmu dan jangan setengah-setengah, beliau juga menceritakan bagaimana para ulama dahulu begitu gigih dalam menuntut ilmu, mereka rela menempuh perjalanan yang sangat jauh demi mendapatkan ilmu.



Santri MATIQ Istiqomah Sambas dan Mahasantri Ma’had ‘Aly EL-SUCHARY sangat berantusias mengikuti kajian

Sesi tanya jawab dan penutupan

Penyerahan wakaf Kamus KABA karya Ust. Ahmad Thoha Husein kepada Ust. Farid Okbah dan foto bersama asatidz

Januari 02, 2015

Resensi Buku: Ilmu Tajwid Pegangan Para Pengajar Al Qur`an dan Aktifis Dakwah




Judul : Ilmu Tajwid  
Penulis : Achmad Toha Husein Al-Mujahid
Ukuran : 20,5 × 13,5 cm
Tebal : xx + 230 hlm
Berat : 280 gr
ISBN : 978-602-8406-69-7



Ilmu Tajwid merupakan sarana yang dapat menghantarkan kita untuk dapat membaca Al-Qur`an dengan baik dan benar. Meski sudah banyak buku tajwid yang sudah beredar, namun banyak kelebihan buku ini dalam hal cakupan materi yang lebih lengkap, penyertaan contoh yang gamblang dalam setiap penjelasan, serta disajikan dalam gaya bahaya yang sederhana, lugas, dan mudah difahami. Selain itu, buku ini ditulis oleh seorang yang kompeten dalam bidangnya, Achmad Toha Husein Al-Mujahid (Alumni Ma’had Al-Haram Al-Makki Mekah Al-Mukarramah) yang berjudul “ILMU TAJWID (Pegangan Para Pengajar Al-Qur`an dan Aktivis Dakwah)”.

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Copyright © Ma'had 'Aly Tahfizhul Qur'an El-Suchary